Dunia

Aku Memilih Untuk Bahagia - Novel

Jangan hairan melihat aku tersenyum sedangkan baru sedetik tadi kau melihat air mata aku mengalir.



Hati aku masih lagi terguris, terhiris, kecewa, terluka. Namun gurisannya kian menipis dan semakin menjauh. Jiwa aku masih lagi mengeluh. Namun keluhannya tidak lagi merusuh dan tidak lagi merintih.



Engkau tahu kenapa? Aku teringat apa yang pernah aku baca dan lalu aku menulisnnya. Soal tenang saat percaya rezekiku tidak akan diambil orang. Soal siang yang pasti datang sesudah malam menjelma. Soal kesenangan di setiap kesukaran. Soal memberi dan keyakinan bahawa ia akan kembali.


Disaat aku masih merasa kecewa dalam percaturan hidup yang keseorangan tanpa pasangan, aku memikirkan berapa ramai para isteri yang sedang bersusah payah memohon agar dilepaskan.


Ahhh, ternyata bahagia itu bukan terletak padanya sesuatu perkara atau bersandarkan makhluk Allah, tapi pada jiwa kita sendiri.


Disaat hati terkapai kapai mencari harapan, aku teguh berpegang pada takdir Allah. Ketika hati kita sesak dengan tekanan demi tekanan,kita mesti letakkan allah di depan dan lihat betapa cepatnya kita dapat mempersiapkan hati untuk menghadapi kenyataan.


Pujuklah hati, sebab hati manusia akan cepat terpujuk bila sentiasa bersangka baik dengan takdir Allah. Siapalah kita untuk menghalang kekuasaanNya. Walaupun sekuat mana pegangan hati kita pegang, andai Alah membalikkan hati tiada yang mustahil dengan kuasaNya.


Oleh itu, dalam jatuh bangun kita berdepan dengan ujian, selagi mana kita masih bersangka baik dengan aturan Alah. Selagi itu lah kita akan dapat memujuk hati kita.


Share this:

Catat Komen

 
Hakcipta © 2017- Redahjer.com | Dimiliki Oleh Dimensi Teknologi Bumi Niaga(1859511-H)